poles.id – China menyatakan ketidakpuasan yang mendalam terhadap keputusan Amerika Serikat yang menambahkan sejumlah perusahaan besar Tiongkok ke dalam daftar perusahaan yang diduga membantu militer negara tersebut. Kementerian Perdagangan Tiongkok mengungkapkan kekecewaannya setelah pembaruan yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan AS pada hari Senin, di mana nama-nama besar seperti Alibaba, Baidu, serta produsen mobil BYD dan NIO dimasukkan dalam daftar tersebut.
Pembaruan ini juga mencakup produsen panel surya terbesar di dunia, yaitu Trina Solar dan JA Solar Technology. Daftar ini mencerminkan kekhawatiran keamanan Washington di tengah persaingan geopolitik yang semakin intens antara kedua negara, mengingat perusahaan-perusahaan tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat kekuatan militer dan industri Tiongkok.
Dalam pernyataannya, Kementerian Perdagangan Tiongkok berpendapat bahwa langkah-langkah AS ini bertentangan dengan konsensus yang dicapai oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dalam pertemuan mereka di Beijing. Tiongkok meminta agar AS segera menghentikan praktik yang dianggap keliru ini, mencabut langkah-langkah yang diambil, dan kembali ke jalur yang konstruktif dalam membangun hubungan strategis yang stabil antara kedua negara.
Kementerian tersebut juga menegaskan bahwa jika perusahaan-perusahaan Tiongkok tidak diperlakukan dengan adil, Beijing akan mengambil tindakan balasan yang tegas. Sebagai tambahan, menurut hukum AS, mulai tahun 2027, Departemen Pertahanan tidak akan diizinkan untuk berkontrak secara langsung dengan perusahaan-perusahaan yang ada dalam daftar tersebut, dan akan dibatasi dalam pembelian produk atau layanan mereka melalui pihak ketiga.