poles.id – Masalah kesesuaian antara pelacak kebugaran dan pengguna bertato semakin diperbincangkan. Banyak pemilik tato di pergelangan tangan menemukan bahwa perangkat canggih ini sering mengalami kesulitan dalam membaca detak jantung dan mendeteksi keberadaan di pergelangan tangan mereka. Ini disebabkan oleh penggunaan teknologi fotoplethysmography (PPG), yang memanfaatkan cahaya untuk mengukur detak jantung. Tato dapat menghalangi cahaya ini, yang mengakibatkan pembacaan yang tidak akurat.
Masalah ini tidak baru, dan telah diakui oleh beberapa produsen perangkat wearable. Garmin dan Apple memberikan panduan bahwa pemakai disarankan untuk mengenakan perangkat di kulit yang bebas tato untuk hasil yang lebih baik. Penempatan pelacak di area yang tidak bertato, atau penggunaan alternatif seperti tali dada untuk pengukuran detak jantung juga dianggap sebagai solusi sementara, meskipun tidak selalu nyaman.
Meskipun beberapa pengguna mencoba mengatasi masalah ini dengan cara kreatif, seperti menempatkan stiker di atas sensor, teknologi yang ada saat ini masih belum sempurna. Banyak perangkat, seperti smartwatch dari Google, menunjukkan peningkatan dalam menanggapi kulit bertato, namun keluhan dari pengguna Galaxy Watch tetap ada.
Penelitian mengenai pengaruh tato terhadap pembacaan sensor masih terbatas. Sebuah studi mencatat bahwa kehadiran tato berpengaruh pada pembacaan detak jantung, namun efeknya bervariasi tergantung pada aktivitas pemakai. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperdalam pemahaman dan menemukan solusi yang lebih efektif bagi pengguna bertato agar dapat memaksimalkan fungsi perangkat wearable mereka.